Hari ini mendung hampir setengah hari
menghiasi langit kota Bandung. Siang ini tidak biasanya langit tiba-tiba
mendung tanpa titik hujan. Seharusnya orang-orang saat ini sedang asyik berjemur
menghabiskan liburan atau bahkan beriuh di mall hanya sekedar menghabiskan
sisa-sisa waktu liburan panjang. Namun, perkiraan cuaca hari ini tidak bagus. Tidak
banyak orang yang berpergian, selain orang yang benar-benar perlu untuk pergi.
Aku sendiri Fani Fauziah, tengah duduk
di halte lebih kurang seperempat jam demi menunggu bus tujuanku pulang. Tidak
banyak yang kulakukan di sini sepanjang seperempat jam terakhir. Aku hanya
mendengarkan radio berita tentang cuaca hari ini lewat headset yang tersambung
dengan handphoneku.
Tak lama kemudian, sekitar lima menit
aku mendapati bus tujuanku telah sampai di hadapanku. Dengan sigap kulangkahkan
kakiku menapaki tangga pertama bus. Sampai didalam bus lekas ku edarkan
pandanganku, mencari tempat duduk yang pas untukku menopang rasa lelah sepulang
dari kampus. Rupanya semua bangku bus nyaris terisi, kecuali satu bangku pada
barisan ke empat. Kulihat seorang pria tengah duduk pada bangku nomor tujuh,
tepatnya disamping bangkuku.
“Emm, permisi. Apa bangku ini kosong?”
Aku bertanya sesopan mungkin. Pria itu menoleh, membuat sekilas pandangan kami
bertemu. Kusunggingkan senyumku dengan sedikit ragu. Sialan, kenapa pria ini
sangat menarik, pikirku.
“Kurasa begitu,” jawabnya kemudian.
“Ah~ ,” aku mengangguk paham dan lekas
duduk pada bangku tersebut.
Diam-diam aku mencuri pandang pada pria
itu. Dari jarak sekian sentimeterpun aku dapat mencium aroma parfumnya yang
menyeruak sampai ke hidungku. Kelihatannya pria ini beberapa tahun lebih tua
dariku. Dari pakaiannya yang cukup berlebihan aku menyimpulkan demikian.
Demi apapun pria ini benar-benar menarik
dan…… tampan!
“Ah, selamat siang. Fani Fauziah, anda?”
tanyaku mencoba berbasa-basi. Bagaimanapun aku harus tahu siapa nama pria ini.
“Irgi Eza Saputra” jawabnya diiringi
segaris senyum di wajahnya. Manis sekali.
“Eem~, Saudara Irgi– “ kalimatku terpotong. “Panggil saja
aku Irgi …”
“Eem~ kalau boleh tahu, anda mau pergi
ke mana?” tanyaku.
“Kerumah kerabatku, kau sendiri?”
“Eh, aku mau pulang … hehe~“ ucapku
sembari menggaruk tengkukku yang benar-benar tak gatal.
“Berapa usiamu?” tanyanya lagi.
“Beberapa hari lagi sembilan belas tahu,
anda?” tanyaku mencoba memberanikan diri.
“Aku dua puluh satu tahun” jawabnya
mantap.
“Ahh~ begitu” aku kehabisan kata-kata.
Entah kenapa rasanya nyaman sekali duduk di sanping Irgi. Apa aku jatuh cinta?
Pada Irgi? Secepat ini? Tidak masuk akal.
Sepanjang perjalanan aku terus ribut
dengan pikiran dan khayalanku. Suasana di antara kami hening sejenak
pembicaraan terakhir kami. Sesungguhnya aku ingin berbicara lagi, tapi aku
tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Apakah sopan menanyakan nomor
handphone? Aaaargh~ Rasanya aku mau menelan jembantan layang saja saat ini!
**
Bus
terus melaju kencang, membawa kami melewati setiap sudut kota Bandung.
Tiba-tiba kurasakan bahwa dingin menyeruak. Perlahan aku membuka mataku dari
tidur lelapku barusan, kutengok ke samping kiri. Irgi masih ada di sini,
disampingku. Mungkin rumah kerabatnya masih agak jauh.
“Kau
bangun?” ucapnya begitu melihatku menguap. Aku mengangguk pelan.
“Eh?
Hujan?” jeritku sejenak. Membuat suasana di sekitar hening seketika. Beberapa
pasang mata di dalam bus tengah melihatku. Aku lekas meminta maaf atas
tindakanku barusan pada mereka.
“Kenapa
sepanik itu?” Tanya Irgi.
“Rumahku
masih cukup jauh dari halte~” jelasku singkat.
Kulihat
Irgi merogoh tasnya, “Kebetulan aku bawa payung, pakailah~” ia menyodorkan
sebuah payung lipat yang masih menangkup.
“Lalu
kau?”
“Aku
akan menelpon kerabatku agar menjemput di halte berikutnya,” ucapnya lembut. “Kau
tidak perlu mengembalikannya kok,”
“Tidak,
aku pasti akan mengembalikannya padamu dua hari lagi!” ucapku semangat.
“Eh?”
“Aku akan mengembalikannya pada Irgi dua
hari lagi~”
Alasan kenapa aku akan mengembalikan
payung ini bukan karena aku sungkan pada Irgi. Melainkan aku ingi.…
“Tidak perlu kok,”
“Berikan saja nomor heanphonemu, nanti
akan kuhubungi lagi ok?” aku mengeluarkan heanphone sesegera mungkin dan segera
memberikan padanya. Tampak ia mengetik beberapa angka disana kemudian
memberikannya padaku.
“Itu nomor heanphoneku” ucapnya.
Aku ingin… ada pertemuan berikutnya dari
pertemuan ini. Pertemuan antara aku dan Irgi.
“Baiklah, nanti kuhubungi lagi dimana
kita akan bertemu lagi….”
Aku lekas turun dari bus begitu aku
sampai di halte tujuanku. Kubuka payung abu-abu tersebut dan segera membawanya
pulang ke rumah bersamaku. Kuharap di pertemuan berikutnya masih ada
pertemuan-pertemuan berikutnya lagi. Karena aku ingin bertemu Irgi…. Lagi.
**
Dua hari kemudian aku mengirim sms pada
Irgi. Kuputuskan untuk menemuinya di kediamannya. Ia pun tidak keberatan sama
sekali dengan hal itu. Sekitar lima menit setelah ia mengirimkan alamatnya aku
bergegas pergi kesana. Namun, sampai di tengah perjalanan, heanphoneku berdering.
“Eeh~, sms dari Irgi!”
KLIK
From:
Irgi
Maaf mendadak mengabarimu. Bisakah kau
mengembalikannya ke gedung? Aku sedang di gedung sekarang?
From:
Fani
Baiklah,
aku akan kesana. Terimakasih sudah mengabari.
Aku lekas mengambil langkah besar menuju
arah gedung yang dimaksud. Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan
Irgi. Dengan setengah berlari aku pergi ke halte bus tak jauh di depanku. Aku
ingin cepat sampai di gedung dan menemui irgi. Yeeee~
Begitu sampai di gedung begitu banyak
orang berlalu lalang. Tumben sekali, pikirku. Hari ini bukan hari kerja. Tapi,
kenapa gedung tampak ramai dengan orang-orang berpakaian rapi? Lalu apa yang
dilakukan Irgi disana ya?
Terus membatin kurasa sama sekali tidak
memecahkan masalah di kepalaku. Kuputuskan untuk melangkahkan masuk kedalam
gedung. Kulihat beberapa orang yang baru datang lekas mengisi kursi-kursi
gedung yang masih tampak kosong. Perlahan aku mengikuti apa yang mereka
lakukan.
“Emmh~ permisi. Apa ada acara tertentu
hari ini?” tanyaku pada wanita paruh baya di sampingku.
“Iya, ini kan acara pertunangan putra
keluarga Saputra dengan putri keluarga Wijaya.” Jawab wanita itu ringan.
Sejenak aku tertegun. Apa ini pertunangan kerabatnya Irgi?
Sudah sekitar sepuluh menit aku duduk di
kursi ini. Aku mencari keberadaan sosok Irgi. namun, aku sama sekali tidak
menjumpainya. Apa boleh mengikuti acara pertunangan orang yang sama sekali
tidak kukenal?
“Fani, kau sudah datang?” suara lembut
itu dalam sekejap menyita perhatianku. Kulihat Irgi berdiri tak jauh dari
tempatku duduk. Disampingnya berdiri seorang perempuan anggun yang tidak ku
kenal.
“Ah~ Ajeng, aku lupa menceritakan anak
ini padamu. Dia Fani Fauziah,” ucap Irgi memperkenalkan pada perempuan itu. Aku
menganggukan salam pada perempuan itu.
“Ajeng Puspita Wijaya” ucapnya membalas
anggukanku.
“Oia, Irgi, siapa yang akan tunangan?
Kerabatmu kah?” tanyaku
“Bukan. Itu …. Aku yang akan
bertunangan. Tepatnya dengan Ajeng, kekasihku…” kalimat itu mengalir begitu
saja dari bibirnya dengan lancar. Matanya berbinar ketika kalimat itu meluncur
dan tentu segaris senyum itu tidak pernah luput dari wajah tampannya.
Aku diam sejenak sebelum akhirnya
kembali berucap, “Aaah~ begitu rupanya.”
Meskipun dalam hati kecilku mungkin aku
tidak rela …
“Selamat….”
Kata itu pada akhirnya keluar dari
bibirku.
“Semoga kalian bahagia selamanya, dan
dipertemukan dalam ikatan pernikahan.”
Dengan segaris senyuman yang sengaja
kupaksakan, aku mengukirnya dihadapan calon pasangan tunangan itu.
“Terimakasih banyak, Fani …” ucap mereka
berdua nyaris bersamaan. Aku mengangguk, menahan air mataku yang nyaris tumpah.
“Iya, em~ aku ada satu permintaan pada
Igri.”
“Eh? Apa itu?”
“Bolehkah aku memiliki payung ini?”
“Eh? Kenapa tiba-tiba? Tapi, itu sama
sekali bukan masalah. Ambilah,… “
TES
Air mata itu mengalir keluar dari
pelupuk mataku.
“Terimakasih banyak.”
“Fani, kau tidak apa-apa?” kurasakan
jemari lembut Irgi menghapus air mataku.
“Saya baik-baik saja.” Jawabku “Selamat
tinggal”
Aku lekas melangkahkan kaki keluar
gedung. Sesekali kudengar Irgi memanggil namaku, namun aku tak menoleh sama
sekali. Pasti menyedihkan sekali wajahku saat ini. Dan aku tidak ingin ia
melihatku yang seperti ini.
Pada akhirnya, aku menginginkan payung
ini menjadi milikku. Pulang kembali bersamaku. Bukan berarti aku plin-plan. Ini
hanya sekelumit cara agar aku mampu mengobati sakit hatiku. Irgi memang sudah
membuat hatiku membuncah hebat dan dalam seketika ia telah mematahkan hatiku.
Alasan kenapa aku ingin payung ini
kumiliki adalah karena sudah tidak akan ada lagi pertemuan berikutnya setelah
ini. Aku tidak akan bertemu kembali dengan sosok sempurna Irgi. Lewat payung
ini aku bisa melihat bayang-banyang Irgi. Sekalipun aku tidak dapat bertemu
dengan Irgi, tapi aku masih ingin bertemu dengannya. Sekalipun itu hanya
bayangannya dari payung lipat ini.
THE END
Fanfiction Indonesia
0 komentar:
Posting Komentar