Kamis, 17 April 2014

Bahasa Alam



Pirasat adalah cara alam berinteraksi dengan kita, namun kita tak pernah menyadarinya. Pada dasarnya manusia adalah bagian dari alam, pada saat manusia dilahirkan secara natural kita memiliki bahasa yang sama dengan alam. Namun, ketika kita beranjak besar kita diajarkan bahasa yang lain, bahasa yang kita ciptakan sendiri, sehingga kita lupa akan bahasa alam. Meskipun alam meberikan berjuta pertanda, namun kita tak akan tahu apa yang diberikan. Kita terlalu sombong.  Lihatlah awan, bentuknya seperti apa? Asal kamu tahu, awan itu memiliki filosopi tersendiri, karena bentuknya yang selalu berubah dan luruh menjadi rintik hujan, bentuknya selalu berubah mengikuti hukum alam, jatuh ke sungai, mengalir ke laut, menguap ke langit dan berubah menjadi awan lagi. Bukankah titik hujan tidak pernah bertanya kenapa mereka harus meninggalkan tata langit, dimana mereka harus membasuh tata bukit. Mereka tak pernah mengeluh.
Bagaimana kita bisa mengetahui pirasat? Kita bisa tanya hati, pikiran, tanya jiwa kita yang tenang, kita hanya bisa menerima apa yang harus terjadi pasti terjadi. Kau tahu, angin berbisik, namun bisikan itu tak pernah kita dengar, mereka berbicara dengan bahasa alam. Semesta ini bukanlah suatu garis lurus tapi satu lingkaran yang didalamnya saling berhubungan. Conekting. Aku jatuh cinta, pada seseorang yang sanggup aku gapai  sebatas punggungnya saja, seseorang yang hanya sanggup aku nikmati bayangnya saja tapi  takan pernah bisa aku miliki. Seseorang yang hadir bagaikan bintang jatuh sekelebat kemudian menghilang tanpa bisa aku mengejar.  Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Aku adalah orang yang paling bersedih, karena aku tau apa yang takan pernah bisa aku miliki. Aku mencintai kamu tanpa pilihan, mungkin Dia (P) bisa mencintai yang lain tapi aku tidak. Mencintai bukan hanya memakai hati saja, tetapi jiwa raga. Jangan ngomong soal akal dan keadilan. Itu aturan kita, namun itu tak berlaku untuk alam. Alam memiliki hukumnya sendiri, alam mempunyai peraturannya sendiri.
Alam yang membuat aku jatuh cinta pada sosoknya, dengan bahasa alam aku hanya bisa mengagumi dari sudut yang tak pernah terpikirkan akan keindahan sosoknya. Karena dari sudut sini, karena dari jendela ini, aku bisa melihat dengan puas seseorang yang aku suka. Bukankah alam yang membuat itu semua? Goresan indah, terlukis pada parasnya. Goresan indah, terukir pada senyumnya. Namun, seseorang itu takan pernah sanggup aku gapai. Takan pernah sanggup aku genggam, takan pernah lagi aku sapa, karena alam telah membuang rasa itu. Perlahan, alam menghembuskan sang angin dan membawa perasaan yang ada dalam hatiku pergi. Perlahan, sinar surya memancarkan dan menguapkan rasa sayang untuk hilang. Perlahan, jejak dia dalam hatiku terhapus oleh sang ombak yang tertawa. Perlahan, sang hujan mengguyur hatiku dan menghanyutkan perasaan itu mengalir jauh. Alam, yang membuat semua itu hilang, perlahan lenyap bak ditelan bumi, tersesat di gelapnya malam tanpa bintang.   
Pirasat takan pernah hilang dari langkah kita karena alam selalu memberikan pertanda.

0 komentar:

Posting Komentar