Pirasat adalah cara alam berinteraksi
dengan kita, namun kita tak pernah menyadarinya. Pada dasarnya manusia adalah
bagian dari alam, pada saat manusia dilahirkan secara natural kita memiliki
bahasa yang sama dengan alam. Namun, ketika kita beranjak besar kita diajarkan bahasa
yang lain, bahasa yang kita ciptakan sendiri, sehingga kita lupa akan bahasa
alam. Meskipun alam meberikan berjuta pertanda, namun kita tak akan tahu apa
yang diberikan. Kita terlalu sombong. Lihatlah
awan, bentuknya seperti apa? Asal kamu tahu, awan itu memiliki filosopi
tersendiri, karena bentuknya yang selalu berubah dan luruh menjadi rintik
hujan, bentuknya selalu berubah mengikuti hukum alam, jatuh ke sungai, mengalir
ke laut, menguap ke langit dan berubah menjadi awan lagi. Bukankah titik hujan
tidak pernah bertanya kenapa mereka harus meninggalkan tata langit, dimana
mereka harus membasuh tata bukit. Mereka tak pernah mengeluh.
Bagaimana kita bisa mengetahui pirasat?
Kita bisa tanya hati, pikiran, tanya jiwa kita yang tenang, kita hanya bisa
menerima apa yang harus terjadi pasti terjadi. Kau tahu, angin berbisik, namun
bisikan itu tak pernah kita dengar, mereka berbicara dengan bahasa alam. Semesta
ini bukanlah suatu garis lurus tapi satu lingkaran yang didalamnya saling
berhubungan. Conekting. Aku jatuh cinta, pada seseorang yang sanggup aku gapai sebatas punggungnya saja, seseorang yang hanya
sanggup aku nikmati bayangnya saja tapi takan
pernah bisa aku miliki. Seseorang yang hadir bagaikan bintang jatuh sekelebat
kemudian menghilang tanpa bisa aku mengejar. Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat sehalus
udara, langit, awan, atau hujan. Aku adalah orang yang paling bersedih, karena
aku tau apa yang takan pernah bisa aku miliki. Aku mencintai kamu tanpa
pilihan, mungkin Dia (P) bisa mencintai yang lain tapi aku tidak. Mencintai
bukan hanya memakai hati saja, tetapi jiwa raga. Jangan ngomong soal akal dan keadilan.
Itu aturan kita, namun itu tak berlaku untuk alam. Alam memiliki hukumnya
sendiri, alam mempunyai peraturannya sendiri.
Alam yang membuat aku jatuh cinta pada
sosoknya, dengan bahasa alam aku hanya bisa mengagumi dari sudut yang tak
pernah terpikirkan akan keindahan sosoknya. Karena dari sudut sini, karena dari
jendela ini, aku bisa melihat dengan puas seseorang yang aku suka. Bukankah
alam yang membuat itu semua? Goresan indah, terlukis pada parasnya. Goresan indah,
terukir pada senyumnya. Namun, seseorang itu takan pernah sanggup aku gapai.
Takan pernah sanggup aku genggam, takan pernah lagi aku sapa, karena alam telah
membuang rasa itu. Perlahan, alam menghembuskan sang angin dan membawa perasaan
yang ada dalam hatiku pergi. Perlahan, sinar surya memancarkan dan menguapkan
rasa sayang untuk hilang. Perlahan, jejak dia dalam hatiku terhapus oleh sang ombak
yang tertawa. Perlahan, sang hujan mengguyur hatiku dan menghanyutkan perasaan
itu mengalir jauh. Alam, yang membuat semua itu hilang, perlahan lenyap bak
ditelan bumi, tersesat di gelapnya malam tanpa bintang.
Pirasat takan pernah hilang dari langkah
kita karena alam selalu memberikan pertanda.
0 komentar:
Posting Komentar