Rabu, 14 Mei 2014

Milik Orang Lain



Aku berharap aku mampu menghilangkan telingaku untuk sejenak, sampai hatiku pulih. Aku hanya sakit mendengar kata yang keluar dari mulutmu. Ketika kau mengakui dia sebagai milikmu. Aku adalah manusia yang juga memiliki rasa sakit. Aku mencintaimu, tapi kau bermain kata mesra bersama orang lain. Seakan tidak ada orang yang tersakiti.

Aku bukan orang buta yang harus tak menganggap semua seperti tak aku lihat. Genggaman tangan, kemesraan, dan semua hal yang kaulakukan bersamanya, semua membuat mataku perih, tak terkecuali hatiku. Pepatah pernah berkata; cinta itu dari mata turun ke hati. Sekarang, aku rubah kata itu menjadi; sakit itu dari mata turun ke hati. Apalagi ketika kita melihat seseorang yang kita sayang mengukir kisah indah bersama orang lain, yang pasti dia itu bukan kita; orang yang mencintainya.

Aku bukan orang yang cepat jatuh cinta. Aku bukan pula orang yang cepat melepaskan cinta. Selagi aku mencintai, saat itu pula aku memberikan hatiku kepada orang yang aku cintai; yaitu kamu, saat ini. Jangan ombang-ambingkan aku dengan cemburu yang terus berkecambuk. Aku lelah kau garuk dengan pemandangan yang terus membuatku hampir gila setiap hari. Aku juga punya hati. Hati yang mencintaimu. Walau kau adalah kekasihnya, untuk sementara.


Fa_Nu
 

0 komentar:

Posting Komentar