Aku
berharap aku mampu menghilangkan telingaku untuk sejenak, sampai hatiku pulih. Aku
hanya sakit mendengar kata yang keluar dari mulutmu. Ketika kau mengakui dia
sebagai milikmu. Aku adalah manusia yang juga memiliki rasa sakit. Aku
mencintaimu, tapi kau bermain kata mesra bersama orang lain. Seakan tidak ada
orang yang tersakiti.
Aku
bukan orang buta yang harus tak menganggap semua seperti tak aku lihat.
Genggaman tangan, kemesraan, dan semua hal yang kaulakukan bersamanya, semua
membuat mataku perih, tak terkecuali hatiku. Pepatah pernah berkata; cinta itu
dari mata turun ke hati. Sekarang, aku rubah kata itu menjadi; sakit itu dari
mata turun ke hati. Apalagi ketika kita melihat seseorang yang kita sayang
mengukir kisah indah bersama orang lain, yang pasti dia itu bukan kita; orang
yang mencintainya.
Aku
bukan orang yang cepat jatuh cinta. Aku bukan pula orang yang cepat melepaskan
cinta. Selagi aku mencintai, saat itu pula aku memberikan hatiku kepada orang
yang aku cintai; yaitu kamu, saat ini. Jangan ombang-ambingkan aku dengan
cemburu yang terus berkecambuk. Aku lelah kau garuk dengan pemandangan yang
terus membuatku hampir gila setiap hari. Aku juga punya hati. Hati yang
mencintaimu. Walau kau adalah kekasihnya, untuk sementara.
Fa_Nu
Fa_Nu
0 komentar:
Posting Komentar