Ingin aku lepas semua penat,
yang tertimbun membebaniku. Ingin
sekali menyapanya walau sekedar lewat komentar. Sebatas menanti agar bisa
merangkul pelangi dengan mesra, sepertinya. Semu semata. Aku takut, detik waktu
hanya bisa aku hitung—tanpa bisa dijalani. Aku terlalu takut menyapamu
langsung, Makhluk Astral.
Terkadang
sadar, apa yang aku lakukan adalah hal gila. Namun, ketika air mataku telah
habis, aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa lagi menangis, Aku tidak mengerti
mengapa air mata ini tidak pernah lagi terjatuh, mungkinkah ini karena
kauterlalu sering melukaiku? Kurasa iya. Ketika
air mataku telah habis,
Aku mulai tak acuh dengan keadaanmu,
Aku mulai tak mau lagi kehadiranmu, mungkinkah ini karena ketidakpedulianmu?
Ketika
air mataku telah habis,
waktuku saat ini hanya menjadi
milikku dan tidak ada lagi kamu walau
seguratan kecilpun. Lelahku mulai meniadakanmu di hidupku, hadirku selalu saja
hanya sebatas ilusi untukmu, tidak pernah kauharapkan. Semu, layaknya bayangan;
tidak pernah kauanggap ada. Sekalipun kehadirannya memang ada dan benar-benar
nyata.
Ah~
Sudahlah itu masa lalu, kini songsong masa depan yang ada di depan mata.
Biarkan masa lalu itu sebagai cermin spion yang dilihat hanya sewaktu-waktu
saja, tidak untuk terus dipandang.
0 komentar:
Posting Komentar