Kamis, 24 April 2014

Kisah Kelas-ik [Umbrella]


Hari ini mendung hampir setengah hari menghiasi langit kota Bandung. Siang ini tidak biasanya langit tiba-tiba mendung tanpa titik hujan. Seharusnya orang-orang saat ini sedang asyik berjemur menghabiskan liburan atau bahkan beriuh di mall hanya sekedar menghabiskan sisa-sisa waktu liburan panjang. Namun, perkiraan cuaca hari ini tidak bagus. Tidak banyak orang yang berpergian, selain orang yang benar-benar perlu untuk pergi.
Aku sendiri Fani Fauziah, tengah duduk di halte lebih kurang seperempat jam demi menunggu bus tujuanku pulang. Tidak banyak yang kulakukan di sini sepanjang seperempat jam terakhir. Aku hanya mendengarkan radio berita tentang cuaca hari ini lewat headset yang tersambung dengan handphoneku.
Tak lama kemudian, sekitar lima menit aku mendapati bus tujuanku telah sampai di hadapanku. Dengan sigap kulangkahkan kakiku menapaki tangga pertama bus. Sampai didalam bus lekas ku edarkan pandanganku, mencari tempat duduk yang pas untukku menopang rasa lelah sepulang dari kampus. Rupanya semua bangku bus nyaris terisi, kecuali satu bangku pada barisan ke empat. Kulihat seorang pria tengah duduk pada bangku nomor tujuh, tepatnya disamping bangkuku.
“Emm, permisi. Apa bangku ini kosong?” Aku bertanya sesopan mungkin. Pria itu menoleh, membuat sekilas pandangan kami bertemu. Kusunggingkan senyumku dengan sedikit ragu. Sialan, kenapa pria ini sangat menarik, pikirku.
“Kurasa begitu,” jawabnya kemudian.
“Ah~ ,” aku mengangguk paham dan lekas duduk pada bangku tersebut.
Diam-diam aku mencuri pandang pada pria itu. Dari jarak sekian sentimeterpun aku dapat mencium aroma parfumnya yang menyeruak sampai ke hidungku. Kelihatannya pria ini beberapa tahun lebih tua dariku. Dari pakaiannya yang cukup berlebihan aku menyimpulkan demikian.
Demi apapun pria ini benar-benar menarik dan…… tampan!
“Ah, selamat siang. Fani Fauziah, anda?” tanyaku mencoba berbasa-basi. Bagaimanapun aku harus tahu siapa nama pria ini.
“Irgi Eza Saputra” jawabnya diiringi segaris senyum di wajahnya. Manis sekali.
“Eem~, Saudara  Irgi– “ kalimatku terpotong. “Panggil saja aku Irgi …”
“Eem~ kalau boleh tahu, anda mau pergi ke mana?” tanyaku.
“Kerumah kerabatku, kau sendiri?”
“Eh, aku mau pulang … hehe~“ ucapku sembari menggaruk tengkukku yang benar-benar tak gatal.
“Berapa usiamu?” tanyanya lagi.
“Beberapa hari lagi sembilan belas tahu, anda?” tanyaku mencoba memberanikan diri.
“Aku dua puluh satu tahun” jawabnya mantap.
“Ahh~ begitu” aku kehabisan kata-kata. Entah kenapa rasanya nyaman sekali duduk di sanping Irgi. Apa aku jatuh cinta? Pada Irgi? Secepat ini? Tidak masuk akal.
Sepanjang perjalanan aku terus ribut dengan pikiran dan khayalanku. Suasana di antara kami hening sejenak pembicaraan terakhir kami. Sesungguhnya aku ingin berbicara lagi, tapi aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Apakah sopan menanyakan nomor handphone? Aaaargh~ Rasanya aku mau menelan jembantan layang saja saat ini!
**
            Bus terus melaju kencang, membawa kami melewati setiap sudut kota Bandung. Tiba-tiba kurasakan bahwa dingin menyeruak. Perlahan aku membuka mataku dari tidur lelapku barusan, kutengok ke samping kiri. Irgi masih ada di sini, disampingku. Mungkin rumah kerabatnya masih agak jauh.
            “Kau bangun?” ucapnya begitu melihatku menguap. Aku mengangguk pelan.
            “Eh? Hujan?” jeritku sejenak. Membuat suasana di sekitar hening seketika. Beberapa pasang mata di dalam bus tengah melihatku. Aku lekas meminta maaf atas tindakanku barusan pada mereka.
            “Kenapa sepanik itu?” Tanya Irgi.
            “Rumahku masih cukup jauh dari halte~” jelasku singkat.
            Kulihat Irgi merogoh tasnya, “Kebetulan aku bawa payung, pakailah~” ia menyodorkan sebuah payung lipat yang masih menangkup.
            “Lalu kau?”
            “Aku akan menelpon kerabatku agar menjemput di halte berikutnya,” ucapnya lembut. “Kau tidak perlu mengembalikannya kok,”
            “Tidak, aku pasti akan mengembalikannya padamu dua hari lagi!” ucapku semangat.
“Eh?”   
“Aku akan mengembalikannya pada Irgi dua hari lagi~”
Alasan kenapa aku akan mengembalikan payung ini bukan karena aku sungkan pada Irgi. Melainkan aku ingi.…
“Tidak perlu kok,”
“Berikan saja nomor heanphonemu, nanti akan kuhubungi lagi ok?” aku mengeluarkan heanphone sesegera mungkin dan segera memberikan padanya. Tampak ia mengetik beberapa angka disana kemudian memberikannya padaku.
“Itu nomor heanphoneku” ucapnya.
Aku ingin… ada pertemuan berikutnya dari pertemuan ini. Pertemuan antara aku dan Irgi.
“Baiklah, nanti kuhubungi lagi dimana kita akan bertemu lagi….”
Aku lekas turun dari bus begitu aku sampai di halte tujuanku. Kubuka payung abu-abu tersebut dan segera membawanya pulang ke rumah bersamaku. Kuharap di pertemuan berikutnya masih ada pertemuan-pertemuan berikutnya lagi. Karena aku ingin bertemu Irgi…. Lagi. 
**
Dua hari kemudian aku mengirim sms pada Irgi. Kuputuskan untuk menemuinya di kediamannya. Ia pun tidak keberatan sama sekali dengan hal itu. Sekitar lima menit setelah ia mengirimkan alamatnya aku bergegas pergi kesana. Namun, sampai di tengah perjalanan, heanphoneku berdering.
“Eeh~, sms dari Irgi!”
KLIK
From: Irgi
Maaf mendadak mengabarimu. Bisakah kau mengembalikannya ke gedung? Aku sedang di gedung sekarang?

From: Fani
Baiklah, aku akan kesana. Terimakasih sudah mengabari.
Aku lekas mengambil langkah besar menuju arah gedung yang dimaksud. Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Irgi. Dengan setengah berlari aku pergi ke halte bus tak jauh di depanku. Aku ingin cepat sampai di gedung dan menemui irgi. Yeeee~
Begitu sampai di gedung begitu banyak orang berlalu lalang. Tumben sekali, pikirku. Hari ini bukan hari kerja. Tapi, kenapa gedung tampak ramai dengan orang-orang berpakaian rapi? Lalu apa yang dilakukan Irgi disana ya?
Terus membatin kurasa sama sekali tidak memecahkan masalah di kepalaku. Kuputuskan untuk melangkahkan masuk kedalam gedung. Kulihat beberapa orang yang baru datang lekas mengisi kursi-kursi gedung yang masih tampak kosong. Perlahan aku mengikuti apa yang mereka lakukan.
“Emmh~ permisi. Apa ada acara tertentu hari ini?” tanyaku pada wanita paruh baya di sampingku.
“Iya, ini kan acara pertunangan putra keluarga Saputra dengan putri keluarga Wijaya.” Jawab wanita itu ringan. Sejenak aku tertegun. Apa ini pertunangan kerabatnya Irgi?
Sudah sekitar sepuluh menit aku duduk di kursi ini. Aku mencari keberadaan sosok Irgi. namun, aku sama sekali tidak menjumpainya. Apa boleh mengikuti acara pertunangan orang yang sama sekali tidak kukenal?
“Fani, kau sudah datang?” suara lembut itu dalam sekejap menyita perhatianku. Kulihat Irgi berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Disampingnya berdiri seorang perempuan anggun yang tidak ku kenal.
“Ah~ Ajeng, aku lupa menceritakan anak ini padamu. Dia Fani Fauziah,” ucap Irgi memperkenalkan pada perempuan itu. Aku menganggukan salam pada perempuan itu.
“Ajeng Puspita Wijaya” ucapnya membalas anggukanku.
“Oia, Irgi, siapa yang akan tunangan? Kerabatmu kah?” tanyaku
“Bukan. Itu …. Aku yang akan bertunangan. Tepatnya dengan Ajeng, kekasihku…” kalimat itu mengalir begitu saja dari bibirnya dengan lancar. Matanya berbinar ketika kalimat itu meluncur dan tentu segaris senyum itu tidak pernah luput dari wajah tampannya.
Aku diam sejenak sebelum akhirnya kembali berucap, “Aaah~ begitu rupanya.”
Meskipun dalam hati kecilku mungkin aku tidak rela …
“Selamat….”
Kata itu pada akhirnya keluar dari bibirku.
“Semoga kalian bahagia selamanya, dan dipertemukan dalam ikatan pernikahan.”
Dengan segaris senyuman yang sengaja kupaksakan, aku mengukirnya dihadapan calon pasangan tunangan itu.
“Terimakasih banyak, Fani …” ucap mereka berdua nyaris bersamaan. Aku mengangguk, menahan air mataku yang nyaris tumpah.
“Iya, em~ aku ada satu permintaan pada Igri.”
“Eh? Apa itu?”
“Bolehkah aku memiliki payung ini?”
“Eh? Kenapa tiba-tiba? Tapi, itu sama sekali bukan masalah. Ambilah,… “

TES

Air mata itu mengalir keluar dari pelupuk mataku.
“Terimakasih banyak.”
“Fani, kau tidak apa-apa?” kurasakan jemari lembut Irgi menghapus air mataku.
“Saya baik-baik saja.” Jawabku “Selamat tinggal”
Aku lekas melangkahkan kaki keluar gedung. Sesekali kudengar Irgi memanggil namaku, namun aku tak menoleh sama sekali. Pasti menyedihkan sekali wajahku saat ini. Dan aku tidak ingin ia melihatku yang seperti ini.
Pada akhirnya, aku menginginkan payung ini menjadi milikku. Pulang kembali bersamaku. Bukan berarti aku plin-plan. Ini hanya sekelumit cara agar aku mampu mengobati sakit hatiku. Irgi memang sudah membuat hatiku membuncah hebat dan dalam seketika ia telah mematahkan hatiku.
Alasan kenapa aku ingin payung ini kumiliki adalah karena sudah tidak akan ada lagi pertemuan berikutnya setelah ini. Aku tidak akan bertemu kembali dengan sosok sempurna Irgi. Lewat payung ini aku bisa melihat bayang-banyang Irgi. Sekalipun aku tidak dapat bertemu dengan Irgi, tapi aku masih ingin bertemu dengannya. Sekalipun itu hanya bayangannya dari payung lipat ini.



THE END

Fanfiction Indonesia

Kamis, 17 April 2014

Bahasa Alam



Pirasat adalah cara alam berinteraksi dengan kita, namun kita tak pernah menyadarinya. Pada dasarnya manusia adalah bagian dari alam, pada saat manusia dilahirkan secara natural kita memiliki bahasa yang sama dengan alam. Namun, ketika kita beranjak besar kita diajarkan bahasa yang lain, bahasa yang kita ciptakan sendiri, sehingga kita lupa akan bahasa alam. Meskipun alam meberikan berjuta pertanda, namun kita tak akan tahu apa yang diberikan. Kita terlalu sombong.  Lihatlah awan, bentuknya seperti apa? Asal kamu tahu, awan itu memiliki filosopi tersendiri, karena bentuknya yang selalu berubah dan luruh menjadi rintik hujan, bentuknya selalu berubah mengikuti hukum alam, jatuh ke sungai, mengalir ke laut, menguap ke langit dan berubah menjadi awan lagi. Bukankah titik hujan tidak pernah bertanya kenapa mereka harus meninggalkan tata langit, dimana mereka harus membasuh tata bukit. Mereka tak pernah mengeluh.
Bagaimana kita bisa mengetahui pirasat? Kita bisa tanya hati, pikiran, tanya jiwa kita yang tenang, kita hanya bisa menerima apa yang harus terjadi pasti terjadi. Kau tahu, angin berbisik, namun bisikan itu tak pernah kita dengar, mereka berbicara dengan bahasa alam. Semesta ini bukanlah suatu garis lurus tapi satu lingkaran yang didalamnya saling berhubungan. Conekting. Aku jatuh cinta, pada seseorang yang sanggup aku gapai  sebatas punggungnya saja, seseorang yang hanya sanggup aku nikmati bayangnya saja tapi  takan pernah bisa aku miliki. Seseorang yang hadir bagaikan bintang jatuh sekelebat kemudian menghilang tanpa bisa aku mengejar.  Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Aku adalah orang yang paling bersedih, karena aku tau apa yang takan pernah bisa aku miliki. Aku mencintai kamu tanpa pilihan, mungkin Dia (P) bisa mencintai yang lain tapi aku tidak. Mencintai bukan hanya memakai hati saja, tetapi jiwa raga. Jangan ngomong soal akal dan keadilan. Itu aturan kita, namun itu tak berlaku untuk alam. Alam memiliki hukumnya sendiri, alam mempunyai peraturannya sendiri.
Alam yang membuat aku jatuh cinta pada sosoknya, dengan bahasa alam aku hanya bisa mengagumi dari sudut yang tak pernah terpikirkan akan keindahan sosoknya. Karena dari sudut sini, karena dari jendela ini, aku bisa melihat dengan puas seseorang yang aku suka. Bukankah alam yang membuat itu semua? Goresan indah, terlukis pada parasnya. Goresan indah, terukir pada senyumnya. Namun, seseorang itu takan pernah sanggup aku gapai. Takan pernah sanggup aku genggam, takan pernah lagi aku sapa, karena alam telah membuang rasa itu. Perlahan, alam menghembuskan sang angin dan membawa perasaan yang ada dalam hatiku pergi. Perlahan, sinar surya memancarkan dan menguapkan rasa sayang untuk hilang. Perlahan, jejak dia dalam hatiku terhapus oleh sang ombak yang tertawa. Perlahan, sang hujan mengguyur hatiku dan menghanyutkan perasaan itu mengalir jauh. Alam, yang membuat semua itu hilang, perlahan lenyap bak ditelan bumi, tersesat di gelapnya malam tanpa bintang.   
Pirasat takan pernah hilang dari langkah kita karena alam selalu memberikan pertanda.