Jumat, 16 Mei 2014

Hayu~ ulin ka Margawati



Sulit aku gambarkan, terlalu sempit dan tak cukup untuk diutarakan. Keindahan yang tiada tara, rasa syukur seakan tak pernah pudar akan keagungan Tuhan. Indah, sangat, bahkan terlalu indah goresan yang terukir dalam hamparan luas. Persekian detik rasa resah, lelah, semua sirna dengan sangat cepat. Sejuk dan damai, membawa pada peraduan jiwa yang tenang.  

Sejenak, pejamkan mata dan hirup dalam-dalam semua oksigen yang ada, biarkan mereka memenuhi paru-paru dan menyebarkan rasa damai dalam diri. Tak pernah lelah, tak pernah bosan memandang langit biru nan cerah. Kicauan burung menjadi nyanyian alam, semilir angin membawa rasa dingin menggelitik ke seluruh tubuh. Gemercih air terjun terdengar merdu bagai nada alam yang meremajakan pendengaran. 

Decak kagumku pada Nya tak pernah habis terlantun dari bibirku. Menikmati setiap inci goresan yang menakjubkan. Kampung halaman kedua, Margawati. Betapa senangnya kujejalkan kakiku melangkah disana, kuejek bumi dengan telapak kaki ku. Matahari cemburu melihat aku tersenyum mengagumi kekuasaan-Nya, bakaran sinarnya tidak menyusutkan rasa kagumku serta semangatku untuk terus melangkah menapaki jalan. 


Margawati

Riuh, gemuruh suara angklung yang mengalun indah, nyanyian sunda mengetuh pintu hati. Sang waktu cepat hingga membawaku pada peraduannya. Senja memerah, langit sajikan semburan jingga yang berkobar di batas horizon. Sesaat lagi malam akan menebarkan keremangan yang mambaur bersama napas kesunyian. Perlahan alam mulai melepaskan diri dari jeratan hari. Seakan jemu menimbun lelah, bumi mulai meredupkan kehidupannya. Aroma sepi mulai menyebar ke setiap celah udara. Berbondong-bondong angin malam mulai menjalankan tugasnya menyelimuti semesta hitam, dan malam pun menetas. Kesungian angin malam yang menusuk kulitku dan merayak keseluruh tubuh lewati darahku yang mulai membeku. Berat hati, melepas indahnya hari dengan kegelapan malam. 

Kerlipan bintang dilangit Margawati yang memancaran cahaya, menerpa kehidupan yang bersungguh tiada akhir. Terlelap dalam malan ditemani sang rembulan yang mengantarkanku pada dunia mimpi, sinar surya membangunkan dengan sorotan manjanya. Nafas pagi ini adalah anugrah untuk hidup yang penuh dengan berkah.  Margawati, tempat yang benar-benar indah dan membuatku nyaman berada disana. 



Fa_Nu

Rabu, 14 Mei 2014

Milik Orang Lain



Aku berharap aku mampu menghilangkan telingaku untuk sejenak, sampai hatiku pulih. Aku hanya sakit mendengar kata yang keluar dari mulutmu. Ketika kau mengakui dia sebagai milikmu. Aku adalah manusia yang juga memiliki rasa sakit. Aku mencintaimu, tapi kau bermain kata mesra bersama orang lain. Seakan tidak ada orang yang tersakiti.

Aku bukan orang buta yang harus tak menganggap semua seperti tak aku lihat. Genggaman tangan, kemesraan, dan semua hal yang kaulakukan bersamanya, semua membuat mataku perih, tak terkecuali hatiku. Pepatah pernah berkata; cinta itu dari mata turun ke hati. Sekarang, aku rubah kata itu menjadi; sakit itu dari mata turun ke hati. Apalagi ketika kita melihat seseorang yang kita sayang mengukir kisah indah bersama orang lain, yang pasti dia itu bukan kita; orang yang mencintainya.

Aku bukan orang yang cepat jatuh cinta. Aku bukan pula orang yang cepat melepaskan cinta. Selagi aku mencintai, saat itu pula aku memberikan hatiku kepada orang yang aku cintai; yaitu kamu, saat ini. Jangan ombang-ambingkan aku dengan cemburu yang terus berkecambuk. Aku lelah kau garuk dengan pemandangan yang terus membuatku hampir gila setiap hari. Aku juga punya hati. Hati yang mencintaimu. Walau kau adalah kekasihnya, untuk sementara.


Fa_Nu