Waktu berlalu dengan sangat cepat. Melewati apa yang kita kira sebelumnya.
Semuanya mulai berubah, begitu juga kamu, begitu juga aku, dan juga kita. Waktu
telah menghapus jejak detik kita yang terasa tak berbeda, ia bahkan
memutarbalikkan segalanya menjadi sangat indah, dulu. Tak ada yang mengira,
kapan perpisahan menjadi penyebab semua gundah yang berkecambuk. Aku menjalani,
kamu meyakinkan aku, namun pada akhirnya waktu juga yang menentukan batas dari
cerita yang kita buat. Kamu tidak pernah punya hak untuk menentukan, begitu
pula aku. Itulah salah kita, yang hanya berharap tanpa menjaga dengan kuat.
Kamu adalah orang yang pertama aku sayang
dengan sangat. Begitu sangat. Kau yang membuat air mata ini menjadi tanda bahwa
aku tidak benar-benar kuat. Aku juga manusia yang tidak berbeda dari makhluk
lainnya. Aku lemah, karena perasaanku sendiri. Tapi, aku hanya mampu menafsir
lewat apa yang kamu beri dan lakukan kepadaku, tanpa aku tahu apa yang kamu
rasa sebenarnya.
Aku tidak mungkin tahu. Seperti apa yang
kamu katakan; cinta itu dibuktikan, bukan dikatakan. Namun, mengapa kau
menganggapku salah persepsi? Aku hanya menjalankan apa yang kaukatakan. Yang
aku tangkap, hanya hal yang tidak bisa dibilang cinta ataupun perasaan untuk
memiliki. Aku tidak lebih dari mereka, orang yang kausebut; teman.
Aku yang merasakan itu sendirian, hanya
sendiri. Melihat pelangi di pagi hari, betapa indahnya. Namun semakin lama
pelangi itu semakin pudar, akan tetapi rasa sayangku padamu sampai saat ini
masih belum pudar. Asal aku tahu, aku bukan pelangi yang menghiasi harimu, aku
bukan hujan yang menghujami hatimu, aku bukan bintang yang berkerlipan di
setiap malammu, menghiasi malammu. Tapi aku hanya seseorang yang menyayangimu, tanpa
pernah kamu sadari kau telah merenggut rasa sayang yang ada padaku itu untukmu,
selalu untukmu.
Ucapkanlah dari
bibir manismu, ucapkanlah sesuatu yang aku nantikan. Aku tak akan bisa terus
menunggu, aku tak bisa membaca pikiranmu, aku tak bisa mendegar bisikmu, aku
tak bisa membaca sorot matamu. Aku tak bisa. Jangan kau biarkan aku menunggu
dalam rasa seperti ini; sakit. Aku harus menunggu berapa lama? Kenapa harus
selalu aku yang merasakan? Jangan tanyakan padaku, jika senyumku tidak lagi
ada, seperti dulu. Jangan salahkan aku, jika pelangi dalam duniaku tinggal
warna hitam pekat. Jangan heran jika semuanya perlahan berubah. Karena aku tak
akan bisa terus menunggu.
Fa_Nu