Minggu, 30 Maret 2014

Grazing

Grazing bukanlah hal yang aneh menurutku. Bukan hal yang baru juga. Sebuah komunitas dengan kegemaran mencari ilmu di lapangan sambil jalan-jalan hehe~ dengan modalkan tekat, mesin roda dua, bensin, jas hujan, jaket, dan helm. Berkelana ke berbagai tempat dengan maksud Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Dengan adanya grazing, kita bisa berbagi kisah, cerita, pengalaman, bahkan dengan adanya itu kita bisa menambah pengalaman hidup yang semula tidak tahu tempat-tempat terpencil namun memiliki kekayaan alam yang luar biasa indahnya. Ini ada sepotong kisah dengan mereka. Ini sepersekian potong kisah dengan grazing. 


Pantai Ranca Buaya - Garut Selatan

Indahnya Pantai Ranca Buaya 

Pantai Jayanti - Cidaun, Cianjur Selatan


Dari Kiri Atas (Lutfi, Desti, Uswah, Puri, Pras, Fajar, dan Sandi) @ Pantai Ranca Buaya

Dari Kiri (Uswah, Desti dan Saya -Fajar- ) @ Pantai Jayanti


Itulah sedikit kisah yang dapat saya bagi. Aku senang mengenal Grazing, karena saya dapat jalan-jalan menghilangkan penat karena tugas kuliah, serta dapat ilmu kehidupan yang langsung didapat dari masyarakat. 

GO GRAZING!



Fa_Nu

Sabtu, 29 Maret 2014

Pelangi Pagi


Waktu berlalu dengan sangat cepat.  Melewati apa yang kita kira sebelumnya. Semuanya mulai berubah, begitu juga kamu, begitu juga aku, dan juga kita. Waktu telah menghapus jejak detik kita yang terasa tak berbeda, ia bahkan memutarbalikkan segalanya menjadi sangat indah, dulu. Tak ada yang mengira, kapan perpisahan menjadi penyebab semua gundah yang berkecambuk. Aku menjalani, kamu meyakinkan aku, namun pada akhirnya waktu juga yang menentukan batas dari cerita yang kita buat. Kamu tidak pernah punya hak untuk menentukan, begitu pula aku. Itulah salah kita, yang hanya berharap tanpa menjaga dengan kuat. 

Kamu adalah orang yang pertama aku sayang dengan sangat. Begitu sangat. Kau yang membuat air mata ini menjadi tanda bahwa aku tidak benar-benar kuat.  Aku juga manusia yang tidak berbeda dari makhluk lainnya. Aku lemah, karena perasaanku sendiri. Tapi, aku hanya mampu menafsir lewat apa yang kamu beri dan lakukan kepadaku, tanpa aku tahu apa yang kamu rasa sebenarnya.

Aku tidak mungkin tahu. Seperti apa yang kamu katakan; cinta itu dibuktikan, bukan dikatakan. Namun, mengapa kau menganggapku salah persepsi? Aku hanya menjalankan apa yang kaukatakan. Yang aku tangkap, hanya hal yang tidak bisa dibilang cinta ataupun perasaan untuk memiliki. Aku tidak lebih dari mereka, orang yang kausebut; teman.

Aku yang merasakan itu sendirian, hanya sendiri. Melihat pelangi di pagi hari, betapa indahnya. Namun semakin lama pelangi itu semakin pudar, akan tetapi rasa sayangku padamu sampai saat ini masih belum pudar. Asal aku tahu, aku bukan pelangi yang menghiasi harimu, aku bukan hujan yang menghujami hatimu, aku bukan  bintang yang berkerlipan di setiap malammu, menghiasi malammu. Tapi aku hanya seseorang yang menyayangimu, tanpa pernah kamu sadari kau telah merenggut rasa sayang yang ada padaku itu untukmu, selalu untukmu. 

Ucapkanlah dari bibir manismu, ucapkanlah sesuatu yang aku nantikan. Aku tak akan bisa terus menunggu, aku tak bisa membaca pikiranmu, aku tak bisa mendegar bisikmu, aku tak bisa membaca sorot matamu. Aku tak bisa. Jangan kau biarkan aku menunggu dalam rasa seperti ini; sakit. Aku harus menunggu berapa lama? Kenapa harus selalu aku yang merasakan? Jangan tanyakan padaku, jika senyumku tidak lagi ada, seperti dulu. Jangan salahkan aku, jika pelangi dalam duniaku tinggal warna hitam pekat. Jangan heran jika semuanya perlahan berubah. Karena aku tak akan bisa terus menunggu. 


Fa_Nu

Rabu, 26 Maret 2014

Aku Merindukan Dia



Kepada seseorang yang sedang sangat aku rindukan saat ini, pikiranku kembali melanglang kepada ingatan tentangmu. Mungkin masa-masa indah yang telah berlalu. Dulu, setiap senyum ini adalah untukmu. Dulu, air mata ini adalah air mata kebahagiaan tiada tara yang tak mampu lagi kupendam. Tapi itu dulu. Hari ini jantungku kembali berdetak tak tenang. Air mataku berlinang pelan-pelan dan ini bukan air mata bahagia lagi. Ini air mata kerinduan yang pernah terpendam dalam kesibukan. Aku tidak mampu lagi membendungnya. Aku tidak tahu sudah seberapa jauh dasar hatiku menyimpan cinta untukmu. Sampai rasanya sesakit ini untuk mengingat langit mendung di musim kemarau. 



Aku terlalu menyayangimu, atau mungkin hanya berambisi memilikimu saja. Tapi, rasa sayang dan keinginan untuk memiliki berbatas sekat yang sangat tipis, hampir transparan. Aku tak mampu membedakannya dengan jelas. Yang kutahu, saat ini aku sangat sangat sangat merindukannu. Ada sebuah kenangan di kelas dan di pantai, tapi tidak ada hari yang jelas untuk mengingatnya. 
Suaramu masih terdengar sayup-sayup saat aku menutup mata. Aku masih tidak rela kehilanganmu. Sungguh aku masih belum rela. Malam ini aku berangan-angan gila. Aku ingin kamu datang, meski tak membawa apapun. Aku hanya ingin kamu datang di hadapanku dan aku bisa menggenggammu dengan erat. Aku ingin menangis lebih keras di depanmu, meski mustahil. Seberapa banyak aku harus mengatakan “Aku sayang sama kamu” agar kamu bisa mendengarnya dari kejauhan? Setidaknya, satu-satunya harapan yang mungkin adalah kamu benar-benar  datang dalam mimpiku dan aku bisa menangis dengan lega. Sungguh aku sangat merindukanmu. Rasanya sakit sekali, kamu tahu? Maaf,  ini terlihat sangat berlebihan. Tapi inilah yang sedang aku rasakan. Aku tak bisa menahannya.


Fa_Nu